Rabu, 14 Mei 2014

AKU – (TER) LUKA



Disaat bermimpi dalam buaian lembut angin
Menatap malam dalam dekapan hangat
Mendengar detak jantung yang berdegup cepat
Saat tatapan mata itu berbinar
Memberikan kilau cahaya
Menuntun dalam kegelapan
Kebutaan yang membuat risau
Kegalauan yang membawa perih

Mendamba sang pangeran
Mengharap datangnya merpati kasih
Menghantarkan datangnya sang kuda putih
Melantunkan lembutnya gesekan biola
Tarian jemari diatas tuts piano
Menjemput putri dalam kasih
Menuntun pergi ke negeri impian
Menjelaskan adanya cinta abadi yang nyata

Membumbung tinggi jauh menuju surga
Mengangkasa dengan sayap yang tak tampak
Ternganga akan takjubnya dunia ajaib
Membahas indahnya kebahagiaan
Kasih, cinta, abadi dalam satu pelafalan indah
Diiringi doa ayat-ayat Tuhan
Taburan kilauan berwarna emas itu
Bercucuran bersama tiupan angin akan serbuk bunga harapan
Sekejap mata, semua lenyap
Aku terbangun dalam keadaan yang ricuh
Kacau, penuh kesedihan, kesakitan
Ratusan jiwa-jiwa patah menjerit
Menangisi kepedihan hati yang luka
Membuat ku teringat pada kejadian indah itu
Yang menjatuhkan ku dalam lubang kesengsaraan perasaan
Terhimpit bersama luka tersayat bersama raga tak berhati

Tuhan, kilauan emas, bunga harapan, negeri impian
Dimana semua yang telah kulalui
Dimana semua yang telah kurasakan
Dimana pangeran ku
Dimana cinta sejati itu
Yang abadi dalam tuntunan Mu
Yang bersatu dalam doa atas nama Mu
Kemana mereka semua Tuhan

Kini ku berdiri, sendiri
Berpegang pada hanya satu genggam bunga keajaiban
Yang terjatuh disaat kehancuran itu dimulai
Yang tak sengaja terikat dalam lingkar jemari kecil ini
Aku yang terluka
Dandelion, bunga terakhir dalam dongeng ku
Membangkitkan jiwa-jiwa yang patah
Dalam hembusan angin bersama sebaran serbuknya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar